BIAYA DIENDAPKAN

Biaya Diendapkan menurut defenisinya adalah biaya-biaya telah lampau yang tidak dapat diperoleh kembali.

Sebagai contoh misalnya seorang investor membeli 100 lembar saham dari sebuah perusahaan melalui seorang pedagang perantara (broker) dengan harga Rp. 25.000,- per saham.
Selain itu investor tersebut harus membayar Rp. 85.000,- untuk komisi dan ongkos-ongkos lainnya.

BIAYA DIENDAPKAN

Dua bulan kemudian dan sebelum menerima pembayaran deviden, pembeli saham tersebut menjual kembali 100 lembar saham tadi melalui pedagang perantara yang sama dengan harga Rp. 35.000,- per saham dikurangi
Rp. 105.000,- untuk biaya penjualan. Dengan demikian investor ini menerima keuntungan bersih sebesar Rp. 3.500.000,-  – Rp. 2.500.000,- – Rp. 85.000,- – Rp. 105.000,- = Rp. 810.000,- pada transaksi-transaksi tersebut.

Pada waktu penjualan Rp. 2.500.000,- dan Rp. 85.000,- merupakan biaya-biaya telah lampau akan tetapi karena biaya-biaya ini pulih kembali setelah diadakan transaksi-transaksi, maka Biaya Diendapkan (sunk cost) tidak jadi dibuat.

Apabila sebaliknya, investor menjual 100 lembar saham tersebut dua bulan setelah pembelian dan harga pasar waktu itu adalah Rp. 20.000,- per saham, dengan biaya Rp. 70.000,- untuk ongkos penjualan, maka investor akan mengalami kerugian sebesar Rp. 2.000.000,- – Rp. 2.500.000,- – Rp. 85.000,- – Rp. 70.000,- = Rp. 655.000,- , Dalam hal ini sebagian biaya-biaya yang telah di keluarkan akan diperoleh kembali , tetapi kerugian sebesar Rp. 655.000,-, akan merupakan biaya yang ditenggelamkan (sunk costs).

Untuk dapat lebih memahami Sunk Cost / Biaya Diendapkan disajikan dalam contoh lainnya seperti dalam keadaan situasi dimana sebuah peralatan mesin dibeli dengan harga Rp. 10.000.000,- dan dengan nilai jual beli pada akhir tahun kelima diperkirakan sebesar Rp. 5.000.000,-.

Penurunan nilai tahunan disebabkan karena penyusutan (biaya penyusutan tahunan ) diperkirakan Rp. 1.000.000,- ini adalah suatu biaya produksi yang dalam teori akan dialokasikan kepada hasil (output) peralatan mesin.

Setelah mengalokasikan biaya penyusutan dan biaya-biaya pabrik lainnya, seperti biaya administrasi umum dan biaya-biaya pemasaran untuk setiap unit produksi, maka biaya untuk setiap total unit output dapat ditentukan.

Suatu prosentase keuntungan kemudian ditambahkan untuk setiap unit produksi dalam menetapkan harga unit penjualan.

Jadi apabila suatu unit dijual maka sebagian rupiah hasil penjualan mengembalikan sebagian hasil penjualan.

Dalam ilustrasi ini diambil anggapan bahwa penjualan akan mengembalikan atau memulihkan biaya penyusutan diperkirakan sebesar Rp. 5.000.000,- (harga pembelian dikurangi nilai jual lagi yang diperkirakan) untuk jangka waktu lima tahun.

Akan tetapi jika peralatan mesin hanya mempunyai nilai pasar sebesar Rp. 2000.000,- pada akhir tahun ke lima, maka akan terjadi biaya ditenggelamkan (diendapkan) sebesar Rp. 5.000.000,-  – Rp.  2.000.000,- = Rp. 3.000.000,-

Apabila mesin tersebut dijual dengan harga Rp. 2.000.000,-, kerugian modal sebesar Rp. 3000.000,-, ini mewujudkan suatu kesalahan dalam memperkirakan tingkat penyusutan

Submit your review
1
2
3
4
5
Submit
     
Cancel

Create your own review

Average rating:  
 0 reviews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *