BIAYA OVERHEAD

BIAYA OVERHEAD

Komponen biaya harga satuan lainnya yaitu Biaya Overhead pada umumnya dibedakan menjadi 2 jenis yaitu overhead kantor dan overhead proyek.

Biaya Overhead kantor adalah biaya-biaya untuk menjalankan usaha kontraktor, seperti sewa kantor dan fasilitasnya, gaji pegawai kantor, izin usaha, biaya anggota asosiasi, biaya pemasaran, biaya tender dan sebagainya.

Sedangkan Biaya Overhead proyek adalah biaya-biaya yang berkaitan dengan aktivitas di lapangan, seperti gaji personel proyek, biaya pembangunan fasilitas di lapangan (gudang, direksi keet dan pagar), biaya transportasi proyek, izin proyek, pajak, biaya rapat, audit dan sebagainya.

Biaya-biaya overhead tersebut dapat dialokasikan ke dalam nilai pekerjaan dengan beberapa cara berikut :

  1. disebar merata ke semua rates item pekerjaan
  2. di poskan pada beberapa item pekerjaan tertentu
  3. sebagai sebuah item pekerjaan lump sum di bagian persiapan.

BIAYA TAK TERDUGA

biaya overhead

Biaya tak terduga (contigency) disebut pula biaya cadangan atau biaya ketidakpastian, adalah biaya-biaya yang dialokasikan untuk peristiwa / kejadian yang mungkin terjadi, tetapi tidak dapat diprediksi dengan pasti.

The Association for the Advancement of Cost Engineering (AACE International) telah mendefiinisikan “contingency” sebagai sejumlah uang yang ditambahkan ke dalam estimasi biaya untuk memungkinkan item, kondisi atau peristiwa yang keadaan, kejadian atau dampaknya tidak pasti dan yang berdasarkan pengalaman menunjukkan kemungkinan akan menyebabkan, secara keseluruhan, biaya-biaya tambahan.

Masih menurut AACE, yang tidak termasuk contigency adalah sebagai berikut:

  1. perubahan lingkup pekerjaan yang besar
  2. peristiwa-peristiwa luar biasa yang dapat digolongkan force majeure
  3. biaya-biaya manajemen
  4. dampak eskalasi dan nilai tukar

Sedangkan yang termasuk contingency adalah kekeliruan perencanaan dan estimasi (termasuk variasi asumsi-asumsi yang digunakan) fluktuasi harga minor, perkembangan desain dan perubahan di dalam lingkup pekerjaan, dan perubahan-perubahan yang terjasdi di pasar dan kondisi lingkungan.

Biasanya biaya tak terduga ini dinyatakan dalam bentuk persentase dari total biaya pekerjaan.
Semakin teliti kontraktor dalam menghitung estimasi biaya konstruksinya, semakin kecil pula nilai biaya tak terduga.

MARKUP DAN PROFIT

Markup dan profit saling berkaitan satu sama lain.
Markup adalah margin antara biaya yang dikeluarkan untuk produksi sebuah batang atau jasa dengan harga jualnya.
Markup dimasukkan ke dalam total biaya produksi, dimana nilai markup menjadi faktor penentu nilai kontrak. Semakin besar markup, semakin tinggi pula faktor profit bagi perusahaan.

Semua jenis biaya proyek (selain markup) seyogyanya tidak dapat dikurangi karena harus dikeluarkan untuk mewujudkan proyek tersebut.
Nilai yang dapat ditambah dan dikurangi adalah nilai markup dan ini berkaitan dengan strategi tender.

Apabila kontraktor berniat memperoleh profit yang tinggi maka harga penawaran kontraktor yang diajukan pun menjadi tidak kompetitif lagi.
Sebaliknya apabila kontraktor menekan markup-nya hingga terlalu kecil, maka bisa jadi kerugian bagi kontraktor karena mengambil pekerjaan yang penuh resiko.
Biasanya besaran markup ini diputuskan oleh pimpinan perusahaan

Disisi lain, kontraktor sebagai sebuah perusahaan penyedia jasa tentu mengharapkan balas jasa berupa keuntungan atau profit.
Keuntungan dapat diartikan sebagai hasil jerih payah dan keahlian ditambah hasil dari faktor resiko.
Hal ini terutama berlaku untuk proyek-proyek konstruksi yang memiliki potensi resiko cukup besar.

Faktor resiko tersebut biasanya telah diperhitungkan ke dalam nilai pekerjaan.
Apabila kontraktor dapat mengelola proyek dengan baik sehingga mampu menekan atau mencegah terjadinya resiko yang telah diperhitungkan, maka kontraktor akan memperoleh keuntungan dari faktor resiko.

https://www.youtube.com/watch?v=F5imR9niY9k

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *